Ngopi Sewarung di Pojok Redaksi Penulis : Mr Ten
PERSADASATU.COM-Awal 2026, Kopi Panas dan Bahaya Kebodohan Aroma kopi sewarung mengepul, gula sudah diaduk, tapi pikiran justru masih pahit. Bukan karena kopinya basi, melainkan karena satu hal klasik yang tak pernah habis dimakan zaman: kebodohan.
Ya, kebodohan. Barang lama, kemasan baru. Bahkan kadang dibungkus rapi dengan jabatan, seragam, atau gelar panjang berderet.
Kita sering menyalahkan alam saat tanah longsor menelan korban, atau banjir mengusir warga dari rumahnya. Padahal alam hanya “menjawab” apa yang manusia lakukan. Hutan ditebang, sungai dijadikan tempat sampah, lalu heran saat air datang tanpa permisi. Itu bukan amukan alam, tapi hasil kebodohan manusia yang merasa lebih pintar dari semesta.
Perang, perampokan, dan kekerasan yang merenggut nyawa pun kerap disebut sebagai kejahatan. Padahal, kalau direnungkan sambil menyeruput kopi pahit, itu lebih tepat disebut kebodohan kolektif. Kebodohan karena gagal memahami arti hidup berdampingan, berbagi, dan saling menyayangi. Kalau pintar, ngapain bunuh-bunuhan?
Pesawat jatuh, kapal tenggelam, teknologi canggih berujung petaka. Lagi-lagi manusia menyalahkan cuaca, mesin, atau “takdir”. Padahal, sering kali akarnya sederhana: ceroboh, lalai, dan sok tahu. Teknologi itu alat, bukan jimat. Kalau dipakai tanpa ilmu dan tanggung jawab, ya jatuh juga—bukan hanya pesawatnya, logikanya ikut anjlok.
Yang paling miris, saat kebodohan masuk ke keyakinan. Ini bukan salah agama, tapi salah cara manusia memahami agama. Ajaran tentang cinta dipelintir jadi alasan membenci. Ironis, tapi nyata.
Di pojok redaksi, kopi mulai dingin. Tapi satu kesimpulan tetap hangat:
Kejahatan bisa dilawan dengan hukum, tapi kebodohan hanya bisa dikalahkan dengan kesadaran.
Awal tahun 2026 mestinya bukan cuma soal resolusi diet yang gagal di minggu kedua, tapi juga resolusi untuk lebih berpikir sebelum bertindak, lebih belajar sebelum bicara, dan lebih rendah hati sebelum merasa paling benar.
Karena kebodohan, jika dibiarkan, jauh lebih berbahaya dari kejahatan.
Dan sayangnya, dia tidak pernah libur, bahkan di awal tahun.
☕
Penulis : Get the feeling
Mr. Ten
Editor Redaksi.
