Film Pendek Debut Akting Veronica Tan di Film ‘Hari Yang Kita Tunggu’, Sentil Gen Z Soal Tradisi dan Toleransi

Film Pendek Debut Akting Veronica Tan di Film ‘Hari Yang Kita Tunggu’, Sentil Gen Z Soal Tradisi dan Toleransi

JAKARTA, Persadasatu.com–- Perayaan Imlek Festival 2026 mendapat kado istimewa melalui peluncuran film pendek bertajuk “Hari Yang Kita Tunggu”.

Film berdurasi 14 menit ini menarik perhatian publik karena dibintangi oleh dua tokoh penting pemerintahan, yakni Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar.

Bukan sekadar hiburan, film yang diproduksi oleh MCM berkolaborasi dengan Creative Goods Inc. ini membawa misi mendalam.

Yakni menyentil fenomena generasi muda (Gen Z) yang mulai abai terhadap tradisi leluhur, sekaligus merayakan harmoni keberagaman Indonesia.

Kegelisahan Terhadap Lunturnya Makna Tradisi

Executive Producer sekaligus CEO MCM, Anthonny Liem, mengungkapkan bahwa proyek ini lahir dari kegelisahannya melihat banyak anak muda menganggap Imlek hanya sebatas seremonial kumpul keluarga tanpa memahami nilai filosofisnya.

“Film ini menyoroti 8 nilai tradisi Tionghoa Indonesia yang wajib dijaga. Kami berharap karya ini bisa menjadi jembatan antar-generasi dalam melestarikan budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Anthony Liem, Minggu (22/2/2026).

Senada dengan Anthony, sang sutradara, George Timothy Nainggolan, menekankan pentingnya pesan “kembali ke akar” bagi anak muda yang hidup di era modern.

“Saya berharap Gen Z bisa kembali ke rumah, ke keluarga, dan melanjutkan tradisi serta nilai budaya dari mana mereka berasal,” tutur pendiri Creative Goods Inc. tersebut.

Simbol Toleransi: Imlek yang Berdampingan dengan Ramadan

Salah satu momen paling menyentuh dalam film ini berada di bagian penutup.

Penonton disuguhkan pesan bertajuk “Harmoni Imlek Nusantara” yang disampaikan langsung oleh Veronica Tan dan Irene Umar.

Pesan ini terasa kian relevan dan mendalam karena perayaan Imlek 2026 bertepatan dengan datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 H.

Film ini pun bertransformasi menjadi simbol nyata Bhinneka Tunggal Ika, di mana masyarakat diajak untuk tetap hidup berdampingan dan merawat toleransi di tengah dua momen besar keagamaan yang berjalan beriringan.

 

Sumber : wartakota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *