⁹
Tangerang Selatan, persadasatu News – Kehadiran operator transportasi umum baru bernama Jempol Trans yang mulai beroperasi melayani rute Pondok Cabe hingga Alam Sutra menuai persoalan baru. Pasalnya, jalur trayek yang dilalui kendaraan baru tersebut dinilai berbenturan dan sama persis dengan jalur yang selama ini menjadi hak layanan angkutan kota (angkot) yang sudah ada. Kondisi ini memicu protes keras dari para pelaku usaha angkutan yang merasa tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pembahasan maupun pemberian izin.
Sekretaris DPC Organda Kota Tangerang Selatan, Reza Asli Tumanggor, mengungkapkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan besar terkait keberadaan layanan baru tersebut. Menurutnya, selama ini Organda beserta koperasi-koperasi angkutan umum selalu menjadi mitra strategis pemerintah yang dilibatkan dalam setiap pembahasan, perencanaan, hingga penataan trayek di wilayah Tangsel. Namun, hal itu tidak berlaku saat Jempol Trans masuk beroperasi.
“Kami mempertanyakan prosesnya. Selama ini ketika berbicara mengenai transportasi umum di Tangerang Selatan, Organda dan koperasi-koperasi angkutan umum selalu diajak berdiskusi. Tapi ketika ada operator baru Jempol Trans masuk dengan trayek Pondok Cabe – Alam Sutra yang jelas-jelas berbenturan dengan jalur kami, kami justru tidak tahu-menahu dan tidak dilibatkan dalam pembahasannya sama sekali,” tegas Reza dalam keterangan persnya, Senin (24/8/2026).
Reza menegaskan, pihaknya sama sekali tidak anti terhadap investasi maupun inovasi baru. Namun, keberadaan layanan baru harus melalui kajian matang agar tidak tumpang tindih, apalagi hingga mengambil jalur yang sudah dikelola dan menjadi sumber penghidupan para pengemudi angkot yang sudah ada puluhan tahun.
Dalam beberapa waktu terakhir, kantor DPC Organda Tangsel juga dibanjiri kedatangan para supir hingga pengurus koperasi angkutan. Mereka datang untuk menyampaikan aspirasi dan keberatan keras atas beroperasinya Jempol Trans yang jalurnya dinilai mengambil pangsa pasar mereka.
“Banyak supir dan pengurus koperasi datang ke kantor kami dan menyampaikan langsung keberatan mereka. Mereka mempertanyakan dasar keberadaan Jempol Trans di jalur Pondok Cabe – Alam Sutra dan menolak operasionalnya karena merasa hak dan nasib mereka tidak diperhitungkan, bahkan tidak pernah diajak bicara sejak awal rencana itu ada,” ungkap Reza.
Pihaknya meminta Pemerintah Kota Tangerang Selatan tidak menutup mata terhadap persoalan ini. Ia mengingatkan, para pelaku angkutan umum yang sudah ada adalah pihak yang setiap hari berjuang melayani warga dan menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat sebelum hadirnya layanan baru.
“Kami bersama para pengelola angkutan sudah mulai membicarakan langkah-langkah selanjutnya. Kami ingin memastikan aspirasi dan keberatan ini tersampaikan lewat jalur yang tepat, terukur, dan tetap mengedepankan dialog dengan pemerintah,” ujarnya.
Sebagai organisasi wadah angkutan darat, Organda Tangsel kembali mengingatkan bahwa kebijakan transportasi bukan hanya soal kendaraan dan jalan, tetapi menyangkut nasib ribuan pengemudi, keberlangsungan koperasi, serta ekonomi keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor ini.
Penambahan layanan baru seharusnya dikaji agar saling melengkapi, bukan saling memangsa. Apalagi jalur Pondok Cabe hingga Alam Sutra selama ini menjadi salah satu jalur hidup utama bagi para angkot.
“Ada etikanya di situ. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru mematikan usaha mereka yang sudah setia melayani masyarakat bertahun-tahun hanya karena kehadiran layanan baru yang jalurnya sengaja disamakan,” tutup Reza Asli Tumanggor.
Liputan Fresli/Redaksi
